Saat ini berbagai Organisasi maupun Perusahaan terus melakukan pembenahan, khususnya dalam menghasilkan Produk Barang maupun Jasa yang menjawab kebutuhan pasar, meningkatkan kualitas serta menekan biaya semaksimal mungkin, hal ini dilakukan karena semakin ketatnya persaingan di era Industri 4.0 saat ini.
Kebutuhan akan Inovasi dan pemanfaatan teknologi menjadi jawaban dari setiap persaingan, sehingga setiap organisasi maupun perusahaan terus melakukan Pembenahan dan peningkatan pengetahuan bagi SDM nya, semakin baik kompetensi SDM maka akan memberikan tambahan Nilai bagi organisasinya.
Salah Satu keilmuan yang dapat menjadi bekal adalah “DESIGN THINKING” dimana pengetahuan ini akan memberikan bekal bagi setiap SDM untuk lebih kreatif, mampu memberikan solusi, dan mampu bekerja dengan standar sistem yang baik. Design Thinking sangat berguna dalam memecahkan masalah yang tidak jelas atau tidak diketahui dengan membingkai masalah dengan cara yang berpusat pada manusia, menghasilkan banyak ide brainstorming, dan mengadopsi pendekatan praktis untuk membuat prototype dan pengujian. Design Thinking juga melibatkan eksperimen yang sedang berlangsung: membuat sketsa, membuat prototype, menguji dan melatih berbagai konsep dan ide.
Hasil dari penerapan design thinking yang diharapkan adalah solusi pembelajaran yang efektif selaras dengan kebutuhan bisnis dan pengembangan kapasitas. Prinsip atau elemen dari design thinking ini adalah mewujudkan dan menciptakan nilai-nilai baru dalam perusahaan.
Stanford School of Design adalah salah satu sekolah desain terbaik di Amerika Serikat dan tempat lahirnya teori pemikiran design. Professor David Kelly, pendiri sekolah, membagi pemikiran desain menjadi lima tahap yaitu: empathize, define ideate, prototype, dan test.
(Mengenal Filosofi dan Prinsip Dasar Design Thinking dalam Mengembangkan Produk/Jasa)
Pada sesi ini, peserta akan belajar 3 langkah untuk memahami masalah yang dialami konsumen sebagai basis menciptakan produk/jasa yang inovatif. Pada sesi ini, peserta akan belajar tentang:
(Pengenalan 3 Langkah dalam Memahami Konsumen menggunakan design thinking)
Pada sesi ini, peserta akan belajar 3 langkah untuk memahami masalah yang dialami konsumen sebagai basis menciptakan produk/jasa yang inovatif. Pada sesi ini, peserta akan belajar tentang:
Pada sesi ini, peserta akan dipandu dengan 40% teori dan 60% praktik berbagai macam metode untuk dapat memahami masalah konsumen sesuai industri / konteks masing - masing peserta. Praktik akan dipandu secara interaktif dengan menggunakan platform Google Jamboard.
(Pengenalan 3 Langkah dalam Memahami Konsumen menggunakan prinsip design thinking)
Pada sesi ini, peserta akan belajar 3 langkah untuk memahami masalah yang dialami konsumen sebagai basis menciptakan produk/jasa yang inovatif. Pada sesi ini, peserta akan belajar tentang:
Sesi ini akan dibawakan secara interaktif dengan 50% teori dan 50% praktik. Sesi interaktif akan menggunakan platform Google Jamboard atau MIRO. Di akhir sesi, peserta akan diminta untuk presentasi terkait dengan gagasan / inovasi yang dihasilkan dari aplikasi metode design thinking.
Bicara soal tujuan bisnis, pastinya mengejar keuntungan atau biasa disebut dengan Return of Investment (ROI). Tak dipungkiri hal tersebut sering bertentangan dengan tujuan pengembangan kapasitas karyawan. Apalagi dalam proses pelatihan pastinya butuh biaya tersendiri. Kehadiran design thinking bermanfaat dalam proses penghematan pengeluaran. Bukan hanya itu, design thinking bisa meningkatkan ROI perusahaan.
Mayoritas perusahaan sangat menghargai pengalaman pelanggan. Demikian pula, design thinking yang berfokus pada pengalaman karyawan dengan memberi mereka solusi yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Konsep tersebut selaras dengan experiential learning yang dicetuskan David Kolb.
Design thinking mampu menyediakan teknologi pembelajaran yang lebih berkaitan dengan keseharian pelanggan. Dalam organisasi, pelanggan yang dimaksud adalah karyawan. Pelatihan yang diterapkan dengan mengedepankan design thinking akan menghasilkan pengembangan kapasitas yang senada dengan masalah keseharian. Fokus pelatihan yang berporos pada karyawan cenderung menumbuhkan loyalitas pegawai dalam perusahaan.
Design thinking menekankan pada pencarian solusi. Dengan menerapkan metode ini, akan banyak ide yang bisa dikembangkan. Ide tersebut bernilai mahal karena bisa membantu pengembangan perusahaan. Pola pikir kreatif ini diperlukan untuk meningkatkan produktivitas karyawan.
Pendekatan yang solutif dari design thinking bisa digunakan di berbagai bidang perusahaan. Apalagi design thinking ini menekankan pada sisi pelanggan atau pengguna. Keberadaan perusahaan baik jasa maupun barang, pastinya tetap memerlukan masukan atau umpan balik yang membangun dari pelanggan guna meningkatkan produk/jasanya.
Empathize atau empati merupakan tahapan awal dalam design thinking. Hal ini menekankan pada emosi pada perspektif pemikiran pengguna. Anda bisa mencoba merasakan emosi dari sisi pengguna, kemudian Anda akan memahami posisi dan perasaan pengguna. Dengan memahami psikologi orang, maka akan mudah mengidentifikasi masalah dan memahami solusi dari permasalahan yang dihadapi. Solusi yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
Langkah nyata yang bisa dilakukan dalam tahapan empathize adalah memperhatikan umpan balik dari pengguna produk atau output yang dikembangkan dalam produk. Kemudian konsultasikan hal tersebut dengan berbagai pihak ahli untuk memudahkan dan memecahkan masalah.
Mendefinisikan ulang (define) adalah tahapan kedua dari proses ini. Anda dihadapkan untuk mendefinisikan masalah dari informasi atau umpan balik yang terkumpul dari tahapan sebelumnya. Yang harus diperhatikan, psikologi pengguna tetap ditekankan dan tuliskan masalah dalam satu atau dua kalimat singkat terkait masalah yang dihadapi.
Pada tahap ini, Anda diajak untuk mengumpulkan ide, lalu menentukan dan mencari solusi dari permasalahan yang ada. Oleh karena itu, proses brainstorming akan menghasilkan ide sebagai pemecahan masalah. Dalam proses menemukan solusi terdapat beberapa tools atau alat yang bisa digunakan misalnya menggunakan kerangka berpikir (mind mapping) hingga brainstorming.
Setelah brainstorming, Anda memiliki banyak solusi. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi solusi dan membuatnya dalam bentuk prototipe akhir atau fitur baru dari produk. Prototype ini merupakan visualisasi dari bentuk nyata solusi untuk permasalahan yang ada.
Pada tahapan terakhir, Anda harus menguji secara langsung prototype yang Anda buat. Banyak orang menganggap pengujian sebagai langkah opsional, tetapi sebenarnya tidak. Umpan balik dari produk pengujian seringkali memungkinkan jadi bahan evaluasi dari solusi. Ini adalah proses untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan mendapatkan dampak positif atau sebaliknya?
3
Sesi
Kelas Online
20 - 22
Juni
2022
13:00
-
16:00 WIB
Maaf pendaftaran telah ditutup, Silahkan kunjungi LPKN.ID untuk event lainnya
Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional (LPKN) merupakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan resmi yang berdiri sejak tahun 2005, telah memiliki sistem manajemen mutu ISO 9001: 2015 dan Sistem Manajemen Mutu Pendidikan 21001:2018, serta telah Terakreditasi A Oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP) – RI, untuk kegiatan Pelaksanaan Pelatihan Pengadaan dan Sertifikasi Barang/ Jasa pemerintah. Telah berhasil melatih Alumni sebanyak lebih dari 3.000.000 orang, yang tersebar di seluruh Indonesia, LPKN juga telah medapatkan 2 Rekor MURI, pada tahun 2020 dan 2021 dalam penyelenggaraan Webinar dengan jumlah Peserta terbanyak lebih dari 100.000 orang
Kunjungi Juga Website www.LPKN.id
Putri : 08118042811
Pengunjung Online : 1
Pengunjung Hari ini : 1
Total Pengunjung : 2,708